JellyPages.com

Thursday, 23 September 2010

Epilog Penutup Hari


Berdenting tak begitu cepat namun
cukup nyaring untuk
membuatku
menoleh dan mengedar pandang

Butuh waktu bagiku menafsir mimpi

pada lingkar yang menyatu pada tepinya

mimpi yang membuatku pandai mengira-ira
pun menakar
aroma yang sanggup membuatku gila

Dermaga
Sauh

Kedai kopi (yang hampir ditinggal pelanggan)

Denting gelas

Ceceran bubuk kopi
Hembusan angin laut


Semarang, September 2010

Monday, 16 August 2010

Macam Kerinduan

Aku selalu menyebutmu seperti itu,
lirih
mesra
namun lebih sering terdengar
gelisah

Sedang aku terus larut dalam galau
menanti isyarat yang kau buat
terlalu lama,
tanda ini, bukan sekedar simbol belaka
berupa garis lurus atau
tiba-tiba menukik tajam tak beraturan

laiknya Kau,

menderu-deru

: selalu membuatku menunggu,

Semarang, Agustus 2010


Wednesday, 19 May 2010

Perjalanan Derap

Ode :

mana langkah kananmu?
biar kusejajarkan dengan derapku

agar kau tak perlu menghela nafas panjang
yang membuatmu tersengal
dan tergelak manja
dalam waktu yang sama

hingga membuat tafsiran jenaka
aku ingin selalu memandang pendar
bolamata itu..
"Tak pernah redup, meski sejenak"

Bersama derapmu,
selalu saja seperti
berkelana pada rerimbunan
hutan bernama Rindu

Semarang, 19 Mei 2010

Pada Ode Dalam Temaram

hitung berapa langkah jarak yang pernah kita lewati atasnya
tak hanya sedepa atau dua depa
mungkin lebih berkilo panjangnya

tak heran jika kau alpa
pada desiran yang pernah hadir
meski selintas lalu
membubuhkan titik merah merona
, bukan jambu

Sungguh kau membuatku bersemu

Semarang, 19 Mei 2010

Wednesday, 12 May 2010

Hari Panjang di bulan Mei lalu

Pada Mei 1998/

Terlalu belia untuk dapat memahami. Mengapa kota itu dipenuhi asap membumbung hingga langit. Sesak dengan kerumunan yang berlarian tak tentu arah. Diantara desingan peluru yang tak mempunyai bola mata. Sungguh, kacau sekali hari itu.

Ibu yang duduk disampingku pun tak banyak bicara, terpaku menatap layar kaca. Mungkin hatinya terasa miris, membayangkan dirinya terjebak pada kekacauan yang sama. "Sayang, Mei yang harusnya berwarna, kini terlihat kelabu," ujar Ibu lirih.

Bertahun kemudian, pada hari dan bulan yang sama tragedi itu diulang perlahan. Hingga tahun kedua belas tak banyak yang bisa dibagi. Hanya selalu berakhir pada tanya.

Setelah itu baru aku tahu, banyak yang tiada disana. Nyawanya direnggut paksa. Banyak etnis tionghoa yang mati sia-sia.

Monday, 19 April 2010

Untuk Milad Kali Ini :

: Kakakku, Torro

Terimakasih selalu memanggilku ~Cinta

Bahkan, aku tak punya banyak cerita
tentang hikayatmu
Ihwal yang mula dari dongeng karuhun
menurun lewat Ambu padaku
Hikayat yang serupa abu,
samar ~ kelabu
namun demikian hidup dalam imajiku

Sejak layar terbelah dan
cerita tentangmu punah,
karam pada ombakombak
menggulung mengangkasa
pasrah pada angin yang urung usai
berhenti melontar tanya
“kapan perang akan selesai?”

Tidak!
Tidak!
Sejarah mencatat,
Kapitanku tak pernah lelah
menghunus kujang
meski tubuh berlinang darah
berseduh keringat
berleleh airmata

Melampaui berabad hari,
lirih aku berkata..

“Daratan melambai diseberang.. Buka matamu”


Semarang, 19 April 2010

Saturday, 17 April 2010

Kemanakah, Cinta


Tuhan,

Tuhan. Aku sungguh tahu itu tatapan sedalam-dalamnya Cinta
Aku paham tatapan itu sejernih-jernihnya Kasih

Tidak panjang umurku,Tuhan!

Hanya perlu kucari cara,
terjemahkan hati,
mengapa Kau bawa aku
pun anak istriku
pada mereka?

Kenapa, Tuhan?

Semarang, 17 April 2010

sumber foto : bismanara.blogspot.com