
Teruntuk : Suara
Bagaimanakah dentum gema?
Apakah suara masih menjadi bayangnya?
Lantas, jika aku pulang ke haribaan,
masih sempatkah aku bertatap muka dengan penuh keikhlasan?
Dari tapak yang menjamah bumi, baris-baris
itu menjelujur. Membujur hingga ke penjuru
Untuk bersimpangan pada satu titik tanpa nama
yang seringpula ambigu maknanya,
Aku sering alpa,
nampak kikuk dan serba salah
Acapkali, lidahku kelu dan nafasku tak beraturan
Sekali, hingga berkalikali
ditempat yang sama, aku tak tahu harus berkata apa.
Semarang, November 2010
Bagaimanakah dentum gema?
Apakah suara masih menjadi bayangnya?
Lantas, jika aku pulang ke haribaan,
masih sempatkah aku bertatap muka dengan penuh keikhlasan?
Dari tapak yang menjamah bumi, baris-baris
itu menjelujur. Membujur hingga ke penjuru
Untuk bersimpangan pada satu titik tanpa nama
yang seringpula ambigu maknanya,
Aku sering alpa,
nampak kikuk dan serba salah
Acapkali, lidahku kelu dan nafasku tak beraturan
Sekali, hingga berkalikali
ditempat yang sama, aku tak tahu harus berkata apa.
Semarang, November 2010
No comments:
Post a Comment